Pada artikel kali ini, kita akan membuat Mikrotik PPPOE client pada koneksi ADSL/GPON, dengan modem mode = bridge. Asumsinya adalah anda telah mempunyai koneksi ADSL (contoh: tekom speedy) atau GPON (contoh: indihome) yang sudah berjalan dengan baik.

bagaimana kita tahu bahwa modem kita sudah berjalan baik?
lihat gambar dibawah. pada gambar ini, kita dapat melihat status koneksi WAN, dimana WAN adalah teknologi berbasis ADSL, GPON, etc.

Screen Shot 2015-12-21 at 19.45.41

Bagaimana kondisi sebelum perangkat mikrotik terpasang?

  1. Pada konfigurasi standard bawaan ISP (telkom), maka modem ADSL/GPON akan berfungsi sebagai perangkat yang men-dial ke central office (kantor ISP / operator)
  2. modem akan melakukan melakukan authentikasi (biasanya menggunakan teknologi PPPOE – point to point over ethernet). username dan password harus didefinisikan ketika melakukan pppoe dial
  3. jika sukses, modem akan mendapatkan IP address dari perangkat central office (PPPOE server).
    1. jika menggunakan ADSL, maka akan mendapat IP dari DSLAM (Digital Subscriber Line Access Multiplexer).
    2. jika menggunakan GPON, maka ONT akan mendapat IP dari OLT (Optical Line Termination).
  4. Karena modem menghubungkan 2 network yaitu network internal (rumah) dan network publik (ISP), maka modem akan berfungsi sebagai router (router adalah perangkat yang berfungsi untuk menghubungan 2 network atau lebih)
  5. karena client menggunakan IP public pada perangkatnya, maka modem akan melakukan NAT (Network Address Translation) yaitu mengubah IP private menjadi IP publik.

seperti apa topologi sebelum terpasang mikrotik? lihat gambar dibawah

from h3c.com.hk topologi ADSL pada sisi customer
pic from multicominc.com.
topologi GPON dari OLT sampai ke pelanggan

well, jika sudah berjalan baik, kenapa ditambah lagi dengan mikrotik? Dibandingkan dengan perangkat mikrotik, modem mempunyai banyak keterbatasan dan kurangnya feature untuk kebutuhan perkantoran seperti bandwidth management, vlan, routing, tunnel, dll.

Untuk itu muncul ide agar mikrotik saja yang melakukan dial ke ISP (mikrotik menjadi pppoe-client). Dengan demikian, IP address publik dapat langsung menempel ke perangkat mikrotik sehingga mudah untuk dimanage langsung dari internet.

Konsekuensinya, Modem ADSL/GPON nantinya hanya akan berfungsi sebagai bridge saja (layer 2), tidak melakukan routing, tidak melakukan dial PPPOE, tidak melakukan NAT, hanya sebagai tempat untuk melewatkan data saja (bridge).

ok ok, kalau begitu, seperti apa topologinya jika sudah ditambahkan perangkat mikrotik? lihat dibawah

agar dapat melakukan ini, maka hal yang perlu dilakukan adalah

  1. @modem: setting bridge mode, catat username & password melakukan dial. modem bridge mode
  2. @mikrotik: colokkan kabel ke modem (misal ether1 mikrotik ke port LAN modem)
  3. @mikrotik: tambahkan pppoe client, masukan interface pppoe (ether1), username & password.
    create pppoe client pppoe username and password
  4. @mikrotik: tambahkan rule firewall NAT pada ether1. ini berguna agar IP private yang dipakai di jaringan internal dapat dirubah ke IP publik oleh router
  5. @mikrotik: agar client mudah mendapatkan IP address, setup DHCP server pada interface internal (misal ether2)

semoga berguna bagi pembaca 🙂

4 Comments

  • Kalau konfigurasi di linux debian gimana min?

    1. Coba sendiri setting di debian tapi default gateway tdk dapat, adanya interface pppoe cuman 0.0.0.0 ketika dicek dengan “route -n”, padahal sudah menambahkan perintah ‘defaultroute’ ke konfigurasi di “/etc/ppp/peers/indihome”, jadi perlu tambah manual dgn perintah “route add default gw …”.

    2. Client jaringan wifi lain juga tidak bisa akses internet padahal /etc/sysctl.conf sudah diset net.ipv4.ip_forward=1 & nat masquerade sudah diatur juga di iptables-nya.

    Berikut tutorial yg sdh dicoba: https://blog.confirm.ch/using-pppoe-on-linux/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.